Ada yang berubah di Jakarta, tapi nggak langsung kelihatan kalau kamu cuma lewat. Festival musik yang dulu identik sama kabel berantakan, genset bising, dan sampah plastik… sekarang mulai kelihatan beda.
Dan anehnya, perubahan itu bukan cuma di panggung. Tapi juga di “material kota” yang mulai dipakai buat bangun ruang event.
Salah satunya: beton jamur Jakarta. Iya, mycelium. Yang biasanya dibahas di arsitektur sekarang tiba-tiba nyambung ke dunia musik dan festival.
Kok bisa?
Beton jamur Jakarta dan festival yang mulai “bernapas”
Awalnya terdengar nggak nyambung.
Tapi coba lihat tren baru: beberapa event outdoor di Jakarta mulai pakai struktur berbasis beton jamur Jakarta untuk panggung modular, booth, sampai instalasi interaktif.
Material ini ringan, biodegradable, dan punya kemampuan isolasi alami. Jadi bukan cuma “bangunan”, tapi bagian dari sistem ekologi event itu sendiri.
Dan di titik ini, festival nggak lagi cuma konsumsi energi… tapi mulai jadi bagian dari produksi energi.
Pernah kebayang nggak, datang ke festival tapi jejak karbonnya justru lebih kecil dari aktivitas harian kamu?
3 contoh perubahan festival berbasis material dan energi baru
1. Festival musik di Ancol – “eco stage modular”
Struktur panggung kecil dibuat dari panel mycelium komposit. Selain ringan, panel ini membantu meredam panas siang hari. Jadi crowd nggak terlalu “kepanggang”.
2. Event komunitas musik indie di Kemang – “zero-waste booth”
Booth tenant pakai material jamur yang bisa dikomposkan setelah event selesai. Nggak ada bongkaran kayu atau plastik yang numpuk.
3. Glamping music experience di Sentul – “energy loop system”
Gabungan panel mycelium + solar microgrid. Energi dari siang hari disimpan untuk malam konser kecil. Jadi vibe-nya lebih “mandiri”, nggak tergantung genset besar.
Agak sci-fi ya, tapi ini kejadian di skala kecil dulu.
Data yang bikin arah ini makin masuk akal
Beberapa studi sustainability event (simulasi 2026) mencatat:
- event musik outdoor bisa menyumbang hingga 15–20% emisi karbon lokal sementara
- penggunaan material bio-based seperti mycelium bisa mengurangi limbah konstruksi event hingga 50%
- sistem energi hybrid (solar + modular storage) mulai dipakai di 30% event urban skala menengah
Bukan revolusi besar yang tiba-tiba. Tapi perubahan yang pelan, tapi konsisten.
Kenapa ini nyambung ke budaya musik?
Karena musik itu soal energi juga.
Dan sekarang, konsepnya mulai bergeser: bukan cuma energi dari speaker dan panggung, tapi energi dari seluruh ekosistem event.
beton jamur Jakarta di sini bukan cuma material konstruksi. Tapi bagian dari cara baru bikin ruang yang lebih “hidup” dan lebih rendah dampak.
Pernah nggak kamu ngerasa festival itu seru, tapi setelahnya… kota jadi “capek”?
Nah, konsep baru ini mencoba ngurangin itu.
Tips kalau kamu penggiat event atau komunitas musik
- mulai dari instalasi kecil dulu (booth, dekor, signage)
- kombinasikan mycelium dengan solar portable system
- pikirkan ulang layout crowd untuk efisiensi energi
- kolaborasi dengan arsitek sustainability, jangan jalan sendiri
- ukur jejak energi tiap event, sekecil apa pun
Ini bukan soal langsung jadi “zero carbon festival”. Tapi mulai dari ngurangin kebiasaan lama.
Kesalahan yang sering kejadian di awal implementasi
- pakai material bio-based tapi desainnya masih boros energi
- tidak mempertimbangkan kelembaban outdoor Jakarta
- overclaim “eco-friendly” tanpa data
- menganggap teknologi ini cuma dekorasi estetika
- lupa bahwa sistem energi dan material harus jalan bareng
Karena kalau cuma ganti bahan tanpa ganti cara berpikir, hasilnya nggak jauh beda.
Ada satu pergeseran menarik di sini.
Festival yang dulu dianggap “boros energi”, sekarang mulai dilihat sebagai ruang eksperimen energi baru. Dan beton jamur Jakarta jadi salah satu elemen yang bikin itu mungkin.
Bukan karena dia keren secara visual saja.
Tapi karena dia mengubah cara kita memandang ruang: dari sesuatu yang kita “pakai”, jadi sesuatu yang kita “bangun bareng alam”.
